Pulsar 220 dan power pricing

Penetapan harga Pulsar 220 sebesar 18,6 juta oleh BAI telah mengundang banyak pertanyaan seputar strategi yang diterapkan oleh Bajaj untuk meraih pasar yang lebih luas di Indonesia. Genderang perang telah ditabuh, Jurus telah dikeluarkan, akankah pasar motor Indonesia bergoyang ?

Pabrikan jepang tidak boleh memandang sebelah mata terhadap jurus yang dilancarkan oleh Bajaj. Walaupun politik perang harga memang bukan hal yang baru di dunia sepeda motor di Indonesia, pabrikan jepang harus tetap waspada.  Lima tahun yang lalu strategi yang sama digunakan oleh produsen motor China untuk melakukan penetrasi ke pasar motor Indonesia. Dengan modal harga murah, kesamaan model dan kemudahan service karena part-nya sama dengan motor jepang mereka sempat mencuri perhatian konsumen. Sempat membuat pabrikan jepang ketar ketir akhirnya satu persatu berguguran karena tidak didukung oleh kualitas motor yang baik.

Sekarang Bajaj datang dengan modal yang lebih baik ketimbang motor China, Low pricing strategy mereka didukung oleh kualitas motor yang cukup baik, ini bisa dibuktikan dengan masih eksisnya mereka setelah 4 tahun berjalan. Walaupun belum bisa disebut sebagai predatory pricing, tetap harus didukung oleh modal yang kuat karena sifatnya mementingkan kepentingan jangka panjang. Saya yakin Bajaj kemampuan untuk itu.

Tidak salah Bajaj menerapkan itu, karena secara teori harga bisa menjadi senjata untuk menaklukkan pasar. Apalagi di mata Bajaj harga motor di Indonesia telah mengalami ‘over price’ dari yang seharusnya.

Dari teori yang ada, harga merupakan satu-satunya komponen dalam bauran pemasaran yang dikategorikan sebagai pemasukan. Jika Anda penganut bauran pemasaran 4P (Price, Promotion, Product, Place), maka Anda akan menyadari bahwa P yang lain semuanya berupa pengeluaran. Demikian pula jika Anda penganut marketing mix 7P maupun 9P, semua P selain price adalah pengeluaran. Strategi penetapan harga sangat kompleks dan sangat penting karena mempunyai hubungan langsung dengan penghasilan perusahaan secara keseluruhan.

Penetapan harga tidak dapat lagi dipandang dari sudut ekonomi belaka yang bertumpu pada demand and supply maupun berdasarkan cost (cost + profit = price). Kecenderungan penetapan harga lebih bertumpu kepada perceived value konsumen dan dinamika persaingan. Artinya harga lebih ditentukan oleh C-konsumen (Consumer) dan C-kompetitor (Competitor) atau C – dinamika persaingan (Competition) dibanding C – biaya (Cost).

Hal yang terjadi di dunia permotoran di Indonesia sama dengan teori diatas. Price tidak lagi hanya sekedar cost, tetapi lebih ditentukan dari dinamika konsumen dan kompetisi. Walaupun bisa saja kompetisi tersebut kompetisi yang semu.

Penetapan harga telah memiliki fungsi yang sangat luas di dalam program pemasaran. Menetapkan harga berarti bagaimana mempertautkan produk kita dengan aspirasi sasaran pasar, yang berarti pula harus mempelajari kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen. Berbicara harga berarti bicara tentang citra kualitas dan seberapa tinggi ekslusifitasnya. Tinggi rendahnya harga sangat berpengaruh terhadap persepsi kualitas, sehingga ikut menentukan citra terhadap sebuah merek atau produk.

Dalam persepsi konsumen sering berlaku logika bahwa harga yang mahal berarti kualitas bagus dan harga yang murah berarti kualitasnya kurang. Pada tingkat tertentu menetapkan harga berarti juga berbicara mengenai ekslusifitas. Walaupun harus mempertimbangkan berbagai faktor lain terkait, secara kasar dapat dikatakan bahwa makin tinggi harga yang ditetapkan secara relatif terhadap kompetitor, makin eksklusif pula konsumen sasarannya. Seolah seperti piramida. Makin ke puncak makin kecil, makin tinggi harga yang ditetapkan makin sedikit konsumen yang disasar.

Penetapan harga juga berbicara mengenai variasi produk. Jika produknya bervariasi tetapi ditetapkan dengan harga yang sama maka persepsi yang muncul adalah kesamaan kualitas sebagai cerminan variasi produk secara horisontal. Juga dapat dipakai untuk menjelaskan variasi produk secara vertikal dengan kualitas yang bertingkat.

Dengan fungsinya yang amat luas ini, perlu pendekatan harga yang bersifat strategis yang tertuang dalam konsep power pricing. Power pricing pada intinya adalah bagaimana mengelola harga sebagai suatu elemen strategis dalam mendukung strategic positioning yang telah dirumuskan, dan tentunya dapat mendukung pula tujuan bisnis secara keseluruhan.

Pengelolaan harga ini tentu tak lepas dari pricing objectives yang cukup beragam, mulai sebagai sarana pertumbuhan untuk menggapai profit, memperoleh revenue, image shifting, dan memantapkan produk baru. Penentuan pricing objective ini berada dalam kerangka strategis yang lebih luas, corporate strategy maupun marketing strategy.

Secara umum strategi penetapan harga dibedakan berdasarkan tiga landasan utama yaitu harga berdasarkan kepada biaya, harga berdasarkan permintaan dan berdasarkan persaingan. Ketiga strategi dasar itu dapat dijabarkan dengan berbagai pendekatan dalam penetapan harga.

Dari pemaparan tersebut jelas terihat bahwa Bajaj dalam menetapkan harga jual telah melalui pertimbangan yang panjang. Untuk memperkuat keputusan juga telah dilakukan survey untuk mengetahui persepsi pasar dan harapan -harapan terhadap sebuah motor sport.

Walaupun dari sisi spesifikasi produk Pulsar 220 bisa dikelompokkan dalam motor segmen atas atau setara dengan vixion, scorpio dan tiger, tetapi Bajaj ingin meraih pasar yang lebih luas dan kompetisi yang lebih mudah ditaklukkan dengan cara menetapkan harga motor di segmen midle yang dihuni motor kelas 150 cc (kecuali vixion) seperti byson, Satria FU dan NMP. Dengan demikian di kelas midle tersebut pulsar 220 menjadi terlihat sangat superior baik dari sisi spesifikasi maupun price.

Mudah mudahan strategi bajaj ini bukan sebuah Penetration pricing atau Loss leader. Dimana Harga ditetapkan dibawah cost dalam jangka pendek dan bersifat sementara dengan tujuan sama seperti diatas yaitu meraih pasar yang lebih luas dengan resiko jika tidak kuat modal akan mengalami kebangkrutan.

Kita tunggu saja apakah power pricing dari pulsar 220 ini mampu menaklukkan pasar motor sport.

sumber : mycopypast.blogspot.com, pengusahamuslim.com, jpmi.or.id, sahipasand.com

Iklan

~ oleh masbloro pada 11 Maret 2011.

5 Tanggapan to “Pulsar 220 dan power pricing”

  1. akankah membuat atpm jepang keteteran??
    PERTAMAXXX
    SALAM KARET BUNDAR™

  2. kalau lihat harga motor bajaj dindia terutama yang pulsar series sering lebih mahal dibanding kompetitor// gs150r 70.000 rupee,produk yamaha sz-r153cc 66.000rupee sedangkan pulsar 150 udah 73 rupee…

  3. siip siip siip

  4. Ayo BAI….
    Maju terus pantang mundur….
    “beNAMkan”….

  5. ayo bajaj tampilkan fitur, model, mesin, dengan kreatifmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: