Kalo sudah ngasih sen bukan berarti “benar”

Pagi tadi lagi enak2nya bawa motor tiba2 dua motor didepan sebelah kiri berbelok kanan. Hampir saja saya menabrak motor bebek yang dikendarai dua cewek tanpa helm. Beruntung (itulah enaknya orang jawa, mau cilaka masih untung) reasi tangan membetot rem masih bagus sehingga motorku bisa berhenti hanya 2 centi dari motor cewek itu.

[read more...]

Bukannya gak liat tapi karena waktu motor cewek itu ngasih sen kanan jaraknya sudah dekat ke putaran dan posisinya juga ditengah. Sehingga tidak cukup waktu untuk bisa mengurangi kecepatan dengan posisi motorku di jalur paling kanan. Yang bikin naik darah, si boncengernya terlihat marah2 ke aku karena merasa posisinya benar.

Dalam kasus2 seperti itu kebanyakan motor yang ditabrak selalu merasa berada di posisi yang benar, padahal menurutku belum tentu orang yang belok dan kasih sen posisinya benar. Memang aturannya saat belok kita wajib menyalakan sen, tetapi menyalakan sen ada aturannya atau kalo bahasa kerennya ada SOP-nya.

Di jalan setiap kita bermanuver entah itu belok, berpindah jalur atau memperlambat kendaraan kita wajib melihat situasi lalu lintas didepan samping dan belakang (psl 109,110,112 uu/22/2009). Setelah itu kita wajib memberi isyarat dengan alat petunjuk (lampu sen) atau tangan. Saat memberi isyarat juga harus memberi waktu/kesempatan kepada kendaraan di sekitar kita untuk mengantisipasi manuver kita. Ketika mau belok sekali lagi kita harus memperhatikan kondisi sekeliling bahkan sangat disarankan untuk sedikit menengok kebelakang dan jangan hanya mengandalkan sen. Kenapa? Karena spion kendaraan mempunyai keterbatasan pandangan. Orang biasanya menyebut blind spot  (sudut tidak terlihat oleh kaca spion). Setelah dirasa aman barulah kita bisa bermanuver untuk pindah jalur atau belok.

Masih banyak pengendara kendaraan baik mobil atau motor mengabaikan tata cara diatas, yang ada dipikiran kalo sudah bisa mengendalikan motor/mobil ngasih sen semua sudah beres dan dianggap “benar” padahal belum tentu.

Mungkin itulah efek dari gampangnya orang bikin SIM sehingga beretika dijalan hanya sekedar mengikuti rambu2 dijalan tanpa memahami bagaimana mengendarai mobil atau motor dengan aman (safety riding/driving).

Artikel ini diambil dari tiga-sahabat.com, dan baca artikel menarik lainnya di sini :

ilustrasi : edorusyanto.wordpress.com

~ oleh masbloro pada 11 Januari 2012.

13 Tanggapan to “Kalo sudah ngasih sen bukan berarti “benar””

  1. parah
    http://pertamax7.wordpress.com/2012/01/10/racun-yamaha-byson-stop-lamp-di-buntut-yamaha-byson/

  2. hati-hati mas, saya sendiri malah ngeri kalo riding deket rider cewek, soale kadang sulit diprediksi, sruntulannya juga parah…

  3. setuju

  4. Sering ngalami…
    Klo ditegur tp orgnya malah ngeyel, ditantangin aja gini… Nih, lampu remku nyala… Ngko aq tak ngerem mendadak ning ngarepmu y…
    Nabrak kamplengi…

  5. Benar mas, biasanya cewek, seperti kejadian senin lalu, ada cewek jalan di tengah dibelakang mobil, keliatan mo nyalib mobil di depannya, ane berada di sebelah kirinya nunggu cewek itu nyalib (rencana jg mo ikut nyalib mobil), eh ndak tahunya tiba2 sen kiri langsung minggir, ya pasti ane kaget dong… ane klakson sambil ngerem, eh marah2, gantian ane bentak, mo minggir kok di kanan terus…. untung aja ndak ane tabrak.

  6. Prinsip berhati-hati harus dimiliki semua orang. Kelalaian pasti pernah terjadi di setiap orang, termasuk Saya sendiri. Yang dibutuhkan adalah rutinitas, sehingga menjadi terbiasa.🙂

  7. hajarr (dengan omongan )…kalo didiemin tuman…

  8. paling sebel kalo ada orang sen terlambat, tp tergantung juga sikapnya..kadang mrk jg marah, kadang juga dengan simpati sambil minta maaf bilang kalo dia udah sen, yg paling sebel kalo marah2..

    nitip masbro
    http://boerhunt.wordpress.com/2012/01/13/kontroversi-iklan-tv-tvc/

  9. bener mas bro….klo d belakang rider cewek harus hati-hati dan jaga jarak, kita harus tunggu beberapa detik untuk prediksi mau kemena nih rider

  10. Memang benar efek bikin SIM yang gampang mas bro. tapi tes praktek malah ngajarin sruntulan. buktinya saat tes praktek, jalur yang hanya pas buat satu motor saja dengan jalan zig zag dan kaki gak menyentuh tanah. menyentuh tanah gagal. itu dulu sih sekarang kan angka 8 ya. secara nalar klo jalan dengan kecepatan rendah kek gitu kan kaki pasti klo belok nyentuh tanah, emang akrobat kaki gak nyentuh tanah.

    Terus kenapa bukan etika berkendara aja yang di ujikan. Bagaimana calon pemilik SIM bisa mengenali rambu2 dan bereaksi terhadap rambu2 tersebut. sementara praktek uji SIM justru melatih bagaimana menerobos kemacetan atau melatih selap-selip dalam ruang sesempit apapun.

  11. Benar Gan. Menurut UU Lalu Lintas, ane lihat waktu di polwiltabes, klo mau belok, lampu sen dinyalain 30 meter sebelumnya lho.

  12. cewe’ culuan deh

  13. makanya kalau dibelakang rider cewek yg dilihat sen motornya dong jangan bemper rider nya hehehehehe ….. Sopan santun mengendarai motor juga mesti diperhatikan untuk kadang-kadang dapat mengaburkan konsentrasi rider dibelakang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: