Ironi terminal bayangan Jatibening

Kemarin jika sesuai dengan rencana terminal bayangan yang ada di tol Jakarta Cikampek km 8 alias Jatibening akan ditertibkan oleh Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol. Memang benar sebagai pengelola jalan tol adalah kewajiban mereka untuk memberikan pelayanan terbaik untuk pengguna tol yang telah membayar mahal dan untuk memenuhi regulasi yang ada. Tetapi adalah fakta bahwa warga Jatibening dan sekitarnya sangat membutuhkan sarana transportasi yang mudah murah dan nyaman. Dan itu adalah kewajiban dari pemerintah untuk menyediakannya.

Polemik itu terus saja berlangsung sejak lama. Selalu tidak ada solusi menyeluruh atas semua permasalahan yang ada. Masing -masing pihak, Jasa Marga, Polisi dan Pemerintah seolah jalan sendiri – sendiri.

Sebagai pengelola tol PT. Jasa Marga memiliki kewajiban untuk memenuhi ketentuan UU No. 4 th 2004 tentang jalan dan UU no. 15 tahun 2005 tentang jalan tol. Sangat jelas pasal 56 UU no. 4 tahun 2004 menyebut melarang setiap orang memasuki jalan tol kecuali pengguna jalan tol dan petugas terkait. Tetapi sejak awal PT. Jasa Marga telah membuat kesalahan dengan membiarkan terminal bayangan terbentuk yang mengakibatkan pola kehidupan yang tergantung dengan keberadaan terminal bayangan ini.

Ada puluhan tukang ojek dan pedagang yang menggantungkan hidup dari terminal bayangan ini, belum lagi ribuan orang warga sekitar jatibening. Setiap 5 menit ada 26 bus yang mampir ke terminal bayangan ini. Mobilisasi yang tinggi sangat wajar karena warga Jatibening dan sekitarnya tidak memiliki banyak pilihan untuk bisa menjangkau Jakarta dengan cepat. Moda yang ada hanyalah angkutan kota dengan rute berputar2 baru untuk menjangkau terminal terdekat. Tidak mengherankan juga jika di depan perumahan dekat jalan masuk tol terbentuk pangkalan omprengan yang mengantar ke berbagai tujuan dengan tarif yang relatif mahal. Keberadaan mereka yang tidak resmi atau ilegal sering terganggu abibat ada razia dari petugas.

Harusnya pemerintah tanggap akan hal tersebut dengan menyediakan feeder busway untuk wilayah Jatibening  atau dengan memberikan ijin trayek resmi untuk omprengan yang sudah ada jika tidak ingin masalah sosial lainnya muncul. Setelah itu barulah dilakukan penutupan terminal bayangan.

Apakah pemerintah hanya memberikan fasilitas yang melimpah untuk orang kaya dan mengesampingkan keberadaan orang kecil dengan menutup periuk nasi dan membebani mereka biaya tambahan akibat ditutupnya terminal bayangan itu? kemana larinya pajak yang dikumpulkan dari rakyat?

Tanpa memberi solusi penutupan hanyalah sebuah kemustahilan.

~ oleh masbloro pada 9 Juli 2012.

Satu Tanggapan to “Ironi terminal bayangan Jatibening”

  1. yap…itulah yg dimanfaatkan kakakku tuk pp jkt – karawang. memang lbh menghemat wkt. tp akan lbh teratur kalo ada terminal resmi kayaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: